(EN)
When we entered this project in 2014, its foundation construction was already underway. The hotel stands on a 1,500-square-meter indented plot in the highly congested Kramat Raya area of Central Jakarta, with a 16-meter-wide frontage facing south and a 97-meter length facing west, alongside existing main piles left over from a past single-story building. The client’s request was straightforward and honest: an attractive facade for a budget hotel, in the interest of healthy commercial viability. From that simple brief arose our own question: how could this reasonable commercial demand be united with a greater responsibility, designing a building responsive to the tropical city climate?
Our answer was to intertwine the two from the very first line. The facade’s appeal was not sought through ornamentation, but through shadows, vistas, and an easily executable construction logic, utilizing lightweight concrete blocks and reinforced concrete beams commonly mastered by local labor. The western and eastern sides were designed to be more enclosed through an interlacing of planes derived from imaginary sightlines, strung together like a woven craft covering the building from top to bottom; abstracting form on this scale was a new realm of exploration for us. This approach yielded rational balconies in the form of projecting concrete cantilevers 2.5 meters wide and 6 meters diagonally, their spans precisely calibrated to not be excessively long yet remain optimal in shading the space beneath. On the southern side, these cantilevers simultaneously frame views toward Jalan Kramat Raya, Jalan Tugu Tani, and the Monas monument.
Those facade lines did not stop at the skin; they were carried inward to become a ventilation system. A series of 1 x 4.5 meter light wells were installed at the highest point on the fourth floor, separating the northern and southern building masses, allowing light to pierce through the transparent roof down to the first floor, and creating illuminated bridges before guests enter their rooms on the western side. These continuous voids down to the lower floors operate via the stack effect, drawing hot air up and out, ensuring that all movement areas function without artificial air conditioning and mechanical ventilation is kept to an absolute minimum. The same effort was extended to the basement, which receives natural light and cross-ventilation, while the open central lobby resembles an inner courtyard that welcomes visitors with an abundance of light. Meanwhile, local plants along the street edge soften the area’s harsh impression while cooling its microclimate.
It was this weaving concept that gave the project its moniker, Rajutan Rivoli (The Rivoli Weave). When an international architectural publication covered it a few years later, they dubbed it “wickering concrete,” and what they highlighted turned out to be exactly the main wagers of this design: corridors functioning without artificial cooling, light wells piercing from the transparent roof to the first floor, intentionally enclosed western and eastern sides, and a basement breathing with natural light and air. For us, it was not about the press coverage, but rather a mirror. The climate strategy we designed was actually legible, even to eyes observing from afar, and for a studio, such legibility is enough.
During the implementation phase, design ideas met the realities of conventional construction methods. Time constraints were navigated using precast floor slabs to accelerate the core structure, but the sun-shading fins were completed manually by workers on bamboo scaffolding, casting beam by beam, then laying and plastering lightweight concrete blocks one by one along the building’s face, a task that demanded immense patience. Midway through, budget dynamics demanded compromises; plans to feature concrete textures or natural materials were canceled and replaced with white paint, a compromise we gracefully accepted to ensure the construction’s continuity.
And it is at this point that the project leaves its most honest reflection for us. The details we designed stopped at the building’s skin, as the interior spatial arrangement was entrusted by the client to other hands—a common occurrence that we fully respect in the business landscape. Yet, quietly, we harbored a “what if.” This project had enough ingredients, its form, its intention, its climate strategy, to be strung together into an example of a budget hotel worthy of global conversation, if only its exterior and interior lines had breathed in a single breath. That is where we learned to accept that the limits of architecture do exist, it does not control everything, nor does it always control its own continuation. Accepting that limit, without ceasing to design as best as possible right up to its edge, is perhaps the quietest form of maturity in this practice.
Completed in 2018, Hotel Rivoli taught us that a site with spatial limitations is capable of manifesting climate-responsive lodging through the utilization of light, a touch of ingenuity, and harmony with local conditions. This project reminds us that good architecture does not merely revolve around material luxury, but rather around the flexibility of managing limitations, the patience of assembling spaces amidst conventional construction, and the humility of recognizing exactly how far one’s hand is allowed to work.
(IDN)
Ketika kami masuk ke proyek ini pada tahun 2014, konstruksi pondasinya sudah berjalan. Hotel ini berdiri di atas kaveling seluas 1.500 meter persegi berbentuk menjorok di kawasan Kramat Raya, Jakarta Pusat yang sangat padat, dengan muka selebar 16 meter menghadap selatan dan panjang 97 meter menghadap barat, serta tiang pancang utama peninggalan bangunan satu lantai masa lampau yang sudah tertanam. Permintaan klien lugas dan jujur, sebuah fasad yang atraktif untuk hotel budget, demi kepentingan komersial yang sehat. Dari brief yang sederhana itu lahir pertanyaan kami sendiri, bagaimana permintaan komersial yang wajar ini bisa disatukan dengan tanggung jawab yang lebih besar, merancang bangunan yang tanggap terhadap iklim tropis kota.
Jawaban kami adalah menyatukan keduanya sejak garis pertama. Daya tarik fasad tidak dicari lewat ornamen, melainkan lewat bayangan, vista, dan logika konstruksi yang mudah dikerjakan, dinding hebel dan balok beton bertulang yang lazim dikuasai tenaga lokal. Sisi barat dan timur dirancang lebih tertutup melalui jalinan bidang dari garis pandang imajiner yang dirangkai layaknya anyaman menutupi bangunan dari atas hingga bawah, dan mengabstraksikan wujud dalam skala sebesar ini merupakan ranah eksplorasi baru bagi kami. Pendekatan tersebut menghasilkan balkon rasional berupa kantilever beton menonjol selebar 2,5 meter dan diagonal 6 meter, bentangnya diatur presisi agar tidak terlalu panjang namun tetap optimal menaungi ruang di bawahnya. Pada sisi selatan, kantilever ini sekaligus membingkai pemandangan ke arah Jalan Kramat Raya, Jalan Tugu Tani, hingga Monas.
Garis-garis fasad itu kemudian tidak berhenti di kulit, ia diteruskan ke dalam menjadi sistem penghawaan. Deretan sumur cahaya berukuran 1 x 4,5 m dipasang pada titik tertinggi di lantai empat, memisahkan massa bangunan sisi utara dan selatan, membiarkan cahaya menembus dari atap tembus pandang hingga ke lantai pertama, dan menciptakan jembatan bercahaya sebelum tamu memasuki kamar di sisi barat. Void yang menerus ke lantai-lantai bawah ini bekerja dengan efek penumpukan udara, menarik udara panas naik dan keluar, sehingga seluruh area pergerakan berjalan tanpa penyejuk udara buatan dan penghawaan dijalankan seminimal mungkin. Upaya yang sama diteruskan sampai ke rubanah yang menerima cahaya dan sirkulasi silang alami, sementara lobi terbuka di bagian tengah menyerupai halaman dalam yang menyambut pengunjung dengan limpahan cahaya, dan tanaman lokal di sepanjang tepi jalan melembutkan kesan keras kawasan sekaligus menyejukkan iklim mikronya.
Konsep jalinan itu pula yang memberi proyek ini nama sapaannya, Rajutan Rivoli. Ketika sebuah media arsitektur internasional meliputnya beberapa tahun kemudian, mereka menjulukinya beton yang teranyam, wickering concrete, dan yang mereka soroti ternyata persis hal-hal yang menjadi taruhan utama rancangan ini, koridor yang bekerja tanpa penyejuk buatan, sumur-sumur cahaya yang menembus dari atap transparan sampai lantai pertama, sisi barat dan timur yang sengaja tertutup, rubanah yang bernapas dengan cahaya dan udara alami. Bagi kami itu bukan soal pemberitaan, melainkan cermin. Strategi iklim yang kami rancang ternyata terbaca, bahkan oleh mata yang mengamatinya dari jauh, dan bagi sebuah studio, keterbacaan seperti itu sudah cukup.
Pada tahap pelaksanaan, gagasan rancangan bertemu dengan kenyataan metode konstruksi konvensional. Keterbatasan waktu disiasati dengan pelat lantai pracetak untuk mempercepat struktur inti, namun sirip pelindung matahari diselesaikan pekerja secara manual di atas perancah bambu, mengecor balok demi balok lalu menyusun dan mengaci hebel satu demi satu di sepanjang muka bangunan, pekerjaan yang menuntut kesabaran amat panjang. Di tengah jalan, dinamika anggaran menuntut kompromi, rencana menampilkan tekstur beton atau material alami dibatalkan dan diganti pelapis cat putih, kompromi yang kami terima dengan lapang hati demi menjaga kelangsungan pembangunan.
Dan di titik inilah proyek ini meninggalkan renungannya yang paling jujur bagi kami. Detail yang kami rancang berhenti di kulit bangunan, sebab penataan ruang dalam dipercayakan klien kepada tangan yang lain, hal yang lumrah dan kami hormati sepenuhnya dalam alam kerja antar-usaha. Tetapi diam-diam kami menyimpan sebuah andai. Proyek ini punya bahan yang cukup, bentuknya, intensinya, strategi iklimnya, untuk dirangkai menjadi satu contoh hotel budget yang layak dibicarakan dunia, andai garis luar dan dalamnya bernapas dalam satu tarikan. Di situlah kami belajar menerima bahwa batas arsitektur memang ada, ia tidak menguasai segalanya, bahkan tidak selalu menguasai kelanjutannya sendiri. Menerima batas itu, tanpa berhenti merancang sebaik-baiknya sampai ke tepinya, barangkali adalah bentuk kedewasaan yang paling sunyi dalam praktik ini.
Rampung pada tahun 2018, Hotel Rivoli mengajarkan bahwa lahan dengan keterbatasan ruang sanggup mewujudkan penginapan yang tanggap iklim, melalui pemanfaatan cahaya, sentuhan daya cipta, dan keselarasan dengan kondisi setempat. Proyek ini mengingatkan kami bahwa arsitektur yang baik tidak melulu berpusat pada kemewahan material, melainkan pada keluwesan mengelola keterbatasan, kesabaran merakit ruang di tengah pengerjaan konvensional, dan kerendahan hati mengenali sampai di mana tangannya boleh bekerja.
April 9, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief