(EN)
This house presents twisted boxes arranged as if without order, its skin a collage of various materials, seemingly floating, unattached to one another. Viewed from the front, it resembles a cluster growing on a hill. On a corner plot in Taman Buana Permata, West Jakarta, its masses stand apart, bent, angled, and distanced from each other rather than unified into a single neat box. But what appears most irregular is precisely what holds the most reason.
This house is inhabited by three generations: a child, mother, father, and occasionally grandparents. It is these unattached masses that give each generation room to breathe: close, but not crowding one another; one home, but not a single volume that forces everyone to share a wall.
We conceived these separated masses through an image that has long lingered in our minds: a weaverbird’s nest. The weaverbird does not build a nest tightly affixed to a branch; it suspends its nest, detached, woven from what is light and available. Romo Mangunwijaya once adopted this way of thinking, a grounded architecture, assembled from what is at hand, rather than stacked from the heavy and grandiose. Sarang adopts that mindset, not its literal shape: suspended masses, separated, close without crowding.
If the massing hangs like a nest, its skin forms a collage like a hill. Its facade is not one uniform material, but rather a convergence of many, steel, concrete, brick, wood, and glass, stacking and sitting side-by-side, reading from the street like the strata of a slope. Among them are small perforated metal modules, welded one by one on-site, light enough to follow the unconventional angles of the masses, filtering the western and southern heat while allowing light and breeze to pierce through their voids. Even every bathroom receives its own skylight. This house is not tightly sealed; it is arranged to breathe.
But a free form always comes with a price, and here, the price is structural. Those unattached masses, bent at every angle, cannot stand on a single, clean grid. The structure is steel, and within it lie five different grids, cut at angles, skewed, intersecting at highly complex points. A house that from the outside appears to flow like a nest is, on the inside, five systems that must be reconciled. We do not regret it; that complexity is indeed the price of this formal freedom, and we paid it consciously. But it demands time, and it cannot be rushed.
If there is one thing we reconsider, it is not the structure, but the skin. The brick and perforated metal provide the privacy demanded by this dense corner plot, but at the cost of making the house more closed-off than perhaps necessary. We are still thinking about it: perhaps climbing plants growing to cover part of that skin could provide shade and life without adding walls, opening this house up a little without losing its privacy. This house, in other words, is not yet finished speaking with us.
We named it Sarang (Nest). A nest is indeed meant to be lived in, not endlessly built, so we handed this house over, finished, to be inhabited. But finished being built is not the same as finished becoming: there are still strands that might be added, plants yet to grow, a skin that might one day open. We designed the building; time and its inhabitants will finish the rest.
(IDN)
Rumah ini memperlihatkan kotak-kotak berbelok yang tersusun seakan tanpa aturan, kulitnya kolase dari bermacam material, seperti melayang, tidak saling menempel. Dilihat dari depan, ia menyerupai gugusan yang tumbuh di sebuah bukit. Di plot pojok di Taman Buana Permata, Jakarta Barat, massa-massanya berdiri terpisah, ditekuk, disudutkan, dijauhkan satu sama lain alih-alih disatukan menjadi satu kotak yang rapi. Tapi yang tampak paling tak beraturan itu justru yang paling punya alasan.
Rumah ini dihuni tiga generasi: anak, ayah, ibu, dan kadang kakek dan nenek, dan massa yang tidak saling menempel itulah yang memberi setiap generasi ruang untuk bernapas: dekat, tapi tidak berimpitan; satu rumah, tapi bukan satu ruang yang memaksa semua orang berbagi dinding.
Kami memikirkan massa yang terpisah ini lewat sebuah citra yang lama tinggal di kepala kami: sarang burung manyar. Manyar tidak membangun sarang yang menempel rapat ke batang; ia menggantungkan sarangnya, terpisah, dianyam dari yang ringan dan tersedia. Romo Mangunwijaya pernah mengambil cara berpikir semacam ini, arsitektur yang membumi, dirakit dari yang ada di tangan, bukan ditumpuk dari yang berat dan megah. Sarang mengambil cara pikir itu, bukan bentuknya: massa yang menggantung, terpisah, dekat tanpa berimpitan.
Jika massanya menggantung seperti sarang, kulitnya berkolase seperti bukit. Fasadnya bukan satu bahan yang seragam, melainkan pertemuan banyak material, besi, beton, bata, kayu, dan kaca, yang bertumpuk dan bersanding, terbaca dari jalan seperti lapisan-lapisan sebuah lereng. Di antaranya ada modul-modul logam berlubang kecil, dilas satu per satu di tempat, cukup ringan untuk mengikuti sudut-sudut massa yang tidak lazim, menyaring panas barat dan selatan sambil membiarkan cahaya dan angin menembus lubang-lubangnya. Bahkan setiap kamar mandi mendapat skylight-nya sendiri. Rumah ini tidak ditutup rapat; ia disusun agar bisa bernapas.
Tapi bentuk yang bebas selalu ada harganya, dan di sini harganya struktural. Massa yang tidak menempel dan ditekuk di segala sudut itu tidak bisa berdiri di atas satu grid yang bersih. Strukturnya baja, dan di dalamnya terdapat lima grid yang berbeda, dipotong menyudut, mencong, saling bertemu di titik-titik yang tidak sederhana. Sebuah rumah yang dari luar terlihat mengalir seperti sarang, di dalamnya adalah lima sistem yang harus didamaikan. Kami tidak menyesalinya, kerumitan itu memang harga dari kebebasan bentuk ini, dan kami membayarnya dengan sadar. Tapi ia menuntut waktu, dan tidak bisa diburu-buru.
Kalau ada satu hal yang kami pikirkan ulang, itu bukan strukturnya, melainkan kulitnya. Bata dan logam berlubang memberi privasi yang memang dituntut oleh lahan pojok yang padat ini, tapi ongkosnya, rumah ini menjadi lebih tertutup daripada yang barangkali diperlukan. Kami masih memikirkannya: mungkin tanaman rambat yang tumbuh menutupi sebagian kulit itu bisa memberi keteduhan dan kehidupan tanpa menambah dinding, membuka rumah ini sedikit, tanpa kehilangan privasinya. Rumah ini, dengan kata lain, belum selesai berbicara dengan kami.
Kami menamainya Sarang. Sebuah sarang memang untuk ditinggali, bukan untuk terus dibangun, maka rumah ini kami serahkan, selesai, untuk dihuni. Tapi selesai dibangun tidak sama dengan selesai menjadi: masih ada helai yang mungkin ditambahkan, tanaman yang belum tumbuh, kulit yang mungkin suatu hari membuka. Kami merancang bangunannya; waktu dan penghuninya yang akan menyelesaikan sisanya.
April 9, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief