(EN)
This 1,940 m² residential project stands facing Pangkalan Jati Raya Street, one of South Jakarta’s bustling arteries that is dense and noisy for most of the day. From this condition emerged the first design question: how does a house find its tranquility precisely when its face must confront the clamor?
The first answer is placed at the front. The front facade is protected by a 2.6-meter-high freestanding wall in the form of a perforated screen featuring a kawung batik pattern, juxtaposed with a layer of vegetation. This perforated screen performs a dual role, dampening the view and street noise without severing the dialogue with the neighborhood, while still allowing cross-ventilation and a diffused radiance of light into the site. On one side, a corridor for cars is deliberately left elongated, not merely as a vehicular path, but as an access connecting the street front directly to the orchid garden in the back.
The site planning is orchestrated around three acts of respect. First, framing the orchid garden as the green heart of the plot, so the building mass does not devour it, but rather embraces it. Second, respecting the pre-existing swimming pool; its position is retained and the visual axes are arranged so it remains a natural part of the yard. Third, connecting the old building mass, formerly functioning as a residence and now temporarily used as an office, so that the old and the new coexist in a single order. The new building mass is assembled in the front area to bring order to the head of the site while acting as a protective layer for the entire house.
The entry sequence then becomes its main narrative. The building floor is slightly elevated with earthfill, so that stepping inside feels like ascending to quieter ground. Upon entering and looking up, guests are greeted by a 4 x 3-meter foyer with a merbau wood ceiling adapting the form of tumpang sari, a stepped arrangement that induces a stack effect, drawing the wind upward and breathing life into the building’s cross-ventilation. In the tradition of the Javanese Joglo house, the tumpang sari is understood as an essential element symbolizing the relationship between humans and the Almighty; in this house, it simultaneously functions as its lungs.
From the foyer, space flows through an L-shaped open-air corridor, 7.2 meters high and 2.5 meters wide, designed without glass partitions so the wind can sweep through it freely before penetrating the rooms. Along its path, vistas are unveiled in layers: two 10 m² indoor gardens displaying floral arrangements, before culminating in a 60 m² gathering space directly connected to the expanse of the orchid garden and the pool. This house does not present one singular grand view; it offers a sequence of views discovered while walking.
The rest is a prolonged endeavor of detailing. Some of the family’s old materials, wooden parquets, door leaves, ceiling panels, down to vintage lamps were reassembled into the new dwelling, a decision that conserves resources while demanding much compromise and on-site craftsmanship adjustments. The coordination process of the working drawings did not always run smoothly either; working guidelines were often left un-updated, and we shared the responsibility for that gap. Consequently, time and again, we had to set aside our design egos, make direct adjustments on the ground, and stabilize the building’s visual language so its form remained harmonious.
This project also leaves behind one honest design reflection, a “what if” that we still hold onto. To accommodate the possibility of future floor additions, the top of the building is locked with a reinforced concrete slab structure. That decision quietly lends the house a brutalist character, a structure calculated for extension, robust, ready to shoulder a burden that may not necessarily arrive. And therein lies the paradox: the unassuming form of a Javanese house collides with the much more frugal logic of the limasan, which dictates building only as much as today’s needs require. Had the roof form been liberated from the confinement of concrete and replaced with a stepped terracotta tile arrangement peaking like a meru, this architecture would more loudly echo the modesty of a tropical Javanese home.
Ultimately, the Java Bioclimatic Home taught us that tranquility in the middle of the city is not attained by closing oneself off, but by filtering: the kawung screen that sifts through noise and wind, the earthfill that elevates the floor above the clamor, the tumpang sari that channels the air, the corridor that guides the gaze layer by layer. This house is not a standalone object; it is a frame for the orchid garden, for the pre-existing pool, and for the everyday life that unfolds in between. And as always, what makes it breathe is not the perfection of form, but the patience of assembling detail after detail until everything resonates in harmony.
(IDN)
Proyek hunian seluas 1.940 m2 ini berdiri menghadap Jalan Pangkalan Jati Raya, salah satu urat nadi selatan Jakarta yang padat dan ribut hampir sepanjang hari. Dari kondisi itu lahir pertanyaan pertama desain, bagaimana sebuah rumah menemukan ketenangannya justru ketika wajahnya harus menghadap keriuhan.
Jawaban pertama diletakkan di muka. Wajah depan dilindungi dinding bebas setinggi 2,6 m berupa kerawang berpola batik kawung, disandingkan dengan lapisan tanaman. Layar berlubang ini bekerja ganda, meredam pandangan dan kebisingan jalan tanpa memutus dialog dengan lingkungan, sambil tetap meloloskan ventilasi silang dan pendaran cahaya ke dalam tapak. Di salah satu sisi, koridor untuk mobil sengaja disisakan memanjang, bukan sekadar jalur kendaraan, melainkan akses yang menghubungkan muka jalan langsung ke kebun anggrek di belakang.
Perencanaan tapak disusun dari tiga penghormatan. Pertama, membingkai kebun anggrek sebagai jantung hijau lahan, sehingga massa bangunan tidak menelannya melainkan mengelilinginya. Kedua, menghormati kolam renang eksisting yang sudah lebih dulu ada, posisinya dipertahankan dan tata pandang diatur agar ia tetap menjadi bagian alami halaman. Ketiga, menghubungkan massa bangunan lama yang dulu difungsikan sebagai hunian dan kini dipakai sementara sebagai kantor, sehingga yang lama dan yang baru hidup berdampingan dalam satu tatanan. Massa bangunan baru dirakit di area depan untuk menertibkan kepala lahan sekaligus menjadi lapisan pengaman bagi keseluruhan rumah.
Sekuens masuk kemudian menjadi cerita utamanya. Lantai bangunan sedikit ditinggikan dengan urugan, sehingga melangkah masuk terasa seperti naik ke tanah yang lebih tenang. Begitu masuk dan menengadah, tamu disambut foyer berukuran 4 x 3 m dengan langit-langit kayu merbau yang mengadaptasi wujud tumpang sari, susunan berundak yang memancing efek penumpukan udara, menarik angin bergerak naik dan menghidupkan ventilasi silang di dalam bangunan. Dalam tradisi rumah Joglo, tumpang sari dipahami sebagai elemen esensial yang melambangkan hubungan antara manusia dan Yang Kuasa, di rumah ini ia bekerja sekaligus sebagai paru-paru.
Dari foyer, ruang mengalir melalui koridor udara terbuka berwujud huruf L setinggi 7,2 m dan lebar 2,5 m, dirancang tanpa sekat kaca agar angin menyusurinya dengan bebas sebelum menerobos ke kamar-kamar. Sepanjang alurnya, vista dibuka berlapis-lapis, dua taman dalam ruangan seluas masing-masing 10 m2 yang memajang rangkaian bunga, lalu bermuara pada ruang berkumpul seluas 60 m2 yang terhubung langsung dengan hamparan kebun anggrek dan kolam. Rumah ini tidak menyuguhkan satu pemandangan besar, ia menyuguhkan rangkaian pandangan yang ditemukan sambil berjalan.
Sisanya adalah pekerjaan detailing yang panjang. Sebagian material lama milik keluarga, parket kayu, daun pintu, material plafon, hingga lampu lawas, dirakit kembali ke dalam hunian baru, keputusan yang menghemat sumber daya sekaligus menuntut banyak kompromi dan penyesuaian seni kriya di lapangan. Proses koordinasi gambar kerja pun tidak selalu berjalan mulus, panduan kerja kerap tertinggal diperbarui, dan kami ikut bertanggung jawab atas celah itu, sehingga berkali-kali kami harus menanggalkan ego desain, menyesuaikan langsung di lapangan, dan menstabilkan bahasa visual bangunan agar wujudnya tetap selaras.
Proyek ini juga menyisakan satu refleksi desain yang jujur, sebuah what if yang masih kami simpan. Guna mengakomodasi kemungkinan penambahan lantai pada masa depan, bagian atas bangunan dikunci dengan struktur pelat beton bertulang. Keputusan itu diam-diam menjadikan rumah ini berwatak brutalis, struktur yang diperhitungkan untuk ekstensi, kokoh, siap memikul beban yang belum tentu datang. Dan di situlah paradoksnya, wujud rumah Jawa yang bersahaja bertabrakan dengan logika limasan yang jauh lebih frugal, yang hanya membangun sebesar kebutuhan hari ini. Andai wujud atap dibebaskan dari kungkungan beton dan diganti susunan genteng terakota berundak memuncak menyerupai meru, arsitektur ini akan lebih lantang menyuarakan kebersahajaan rumah tropis Jawa.
Pada akhirnya, Java Bioclimatic Home mengajarkan kami bahwa ketenangan di tengah kota tidak diperoleh dengan menutup diri, melainkan dengan menyaring, layar kawung yang memilah bising dan angin, urugan yang mengangkat lantai dari keriuhan, tumpang sari yang mengalirkan udara, koridor yang mengantar pandangan selapis demi selapis. Rumah ini bukan objek yang berdiri sendiri, ia bingkai bagi kebun anggrek, bagi kolam yang sudah lebih dulu ada, dan bagi keseharian yang berlangsung di antaranya. Dan seperti biasa, yang membuatnya bernapas bukan kesempurnaan wujud, melainkan kesabaran merakit detail demi detail sampai semuanya selaras.
April 9, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief