RAW Architecture

Architecture Mastery it’s Natural State

Portfolio

039 – Tresno

039 – Tresno

(EN)

In Karawaci, Tangerang, this house began with a plot of land that demanded meticulous calculation. The density of its neighborhood had not yet reached extreme levels, yet the available footprint was just enough to serve as a reminder that space is not something to be squandered frivolously. On such a plot, spaciousness is not pursued by liberating its boundaries, but rather by disciplining them into a grid: nine squares measuring exactly 3.6 by 3.6 meters each. This approach is not meant to constrain, but to establish order. It is this measured order on paper that would eventually serve as the foundation, allowing the family’s life within to flow serenely.

Two hypotheses were to be tested in this house: could the traditional spatial guidelines of feng shui and the principles of tropical architecture go hand in hand within this arrangement of concrete boxes? Initially, harmonizing the two demanded meticulous adjustments. The clients arrived with specific feng shui guidelines that needed to be accommodated. As a designer, the initial instinct is often to explore forms more freely. Yet in this project, the willingness to listen and suspend design ego became the primary key. The building’s layout was ultimately assembled with the utmost respect for these guidelines.

It was through this process of accommodation that a valuable lesson was discovered. When the layout was organized according to feng shui guidelines, it became evident that these traditional calculations were strikingly aligned with climatic rationality. The master bedroom, anchored to the north, and the family room, positioned according to their dictates, happened to fall exactly on the shadiest side of the site. These vital areas were naturally shielded from the scorching heat of the afternoon sun without the need for excessive engineering. What initially appeared to be a spatial constraint turned out to be a practical wisdom that inherently solved the problem of the building’s orientation.

To address the remaining climatic elements, the western side, the direction of the most intense heat was deliberately enclosed with massive concrete walls, keeping openings to an absolute minimum. In return, the northern and southern facades were left wide open, allowing the flow of wind and daylight to pierce through the house.

The ground floor was functionally dedicated to service areas, elevating the family’s main living spaces to the first floor, where the living and dining rooms converge with a small garden and a pond. It is on this floor that the house breathes: a shaded communal inner courtyard, a convergence point for the lives of three generations.

Of course, working drawings and bioclimatic designs are always put to the test by the reality on the ground. The facade and cantilevered concrete structures that shade this house were not molded by factory machines; they were supported, assembled, and cast by the hands of local craftsmen. Their surfaces retain the imprints of the timber formwork and the workflow of their makers. The concrete was not polished into something glossy; rather, it was left to present itself exactly as it is. This process serves as a reminder that the endurance of a material is not solely born from the perfection of fabrication, but from the honesty and perseverance in assembling it.

In the interior, high ceilings and skylights were designed to expel warm air. This system proved its worth once the building was erected: this passive cooling measure tangibly eased the burden on artificial air conditioning amidst the heat of Tangerang.

This building is named Tresno, a word that translates to love. Ultimately, the name finds its physical form not in visual grandeur, but in elements that complement one another and are willing to compromise. The western heat is held at bay so that the northern and southern spaces can remain cool. The 3.6-meter grid acts as an outer veil to safeguard the privacy of the family rooms on the second floor. And most meaningfully, the collaborative design succeeded in marrying feng shui layouts with climatic sensibilities, yielding a serene shelter for its inhabitants.

Family harmony is not created solely by the arrangement of walls; it is cultivated by those willing to live harmoniously behind them. Architecture here is merely the process of assembling concrete, structuring grids, and opening up spaces for the air to flow. It is the family, in the end, who breathes life into that tresno every single day.


 

(IDN)

Di Karawaci, Tangerang, rumah ini bermula dari sebidang tanah yang menghendaki perhitungan telaten. Kepadatan lingkungannya belum menyentuh titik ekstrem, namun luasan yang tersedia cukup untuk mengingatkan bahwa ruang bukanlah sesuatu yang bisa dihamburkan cuma-cuma. Di lahan seperti ini, kelapangan tidak diupayakan dengan membebaskan batasannya, melainkan justru dengan mendisiplinkannya ke dalam sebuah grid: sembilan kotak berukuran presisi 3,6 x 3,6 meter. Pendekatan ini bukan untuk mengekang, melainkan untuk menciptakan keteraturan. Keteraturan yang terukur di atas kertas inilah yang kelak menjadi fondasi agar kehidupan keluarga di dalamnya bisa mengalir dengan tenang.

Terdapat dua hipotesis yang ingin diuji di rumah ini: bisakah panduan tata letak tradisional feng shui dan prinsip bangunan tropis berjalan beriringan di dalam susunan kotak beton ini? Pada mulanya, memadukan keduanya menuntut penyesuaian yang cermat. Klien datang membawa acuan feng shui yang perlu diakomodasi secara spesifik. Sebagai perancang, insting awal sering kali ingin mengeksplorasi bentuk secara lebih bebas. Namun di proyek ini, kesediaan untuk mendengar dan menunda ego desain justru menjadi kunci utama. Tata letak bangunan pada akhirnya dirakit dengan sangat menghormati panduan tersebut.

Dari proses mengakomodasi itulah sebuah pelajaran berharga ditemukan. Ketika tata letak disusun mengikuti acuan feng shui, terlihat bahwa perhitungan tradisional itu ternyata sangat sejalan dengan rasionalitas iklim. Kamar utama yang diarahkan berjangkar di utara, serta ruang keluarga yang diposisikan sesuai panduan mereka, ternyata jatuh persis di sisi paling teduh di tapak ini. Area-area vital itu secara alami terhindar dari panas terik matahari sore tanpa perlu rekayasa berlebih. Apa yang awalnya tampak sebagai batasan tata ruang ternyata adalah kecerdasan praktis yang telah memecahkan masalah orientasi bangunan dengan sendirinya.

Untuk merespons sisa iklim yang ada, sisi barat, arah datangnya panas yang paling kuat, ditutup perlahan dengan dinding beton masif yang bukaannya seminimal mungkin. Sebagai gantinya, muka utara dan selatan dibuka lapang untuk membiarkan aliran angin dan cahaya menerobos masuk ke dalam rumah.

Lantai dasar secara fungsional diikhlaskan untuk area servis, mengangkat kehidupan utama keluarga ke lantai satu, tempat ruang duduk dan ruang makan berpadu dengan taman kecil dan kolam. Di lantai inilah rumah bernapas: sebuah halaman dalam komunal yang teduh, tempat bertemunya kehidupan tiga generasi.

Tentu saja, gambar kerja dan rancangan bioklimatik akan selalu diuji oleh realitas di lapangan. Fasad dan struktur kantilever beton yang menaungi rumah ini tidak dicetak oleh mesin dari pabrik; ia ditopang, dirakit, dan dicor oleh tangan-tangan tukang lokal. Permukaannya menyimpan jejak cetakan bekisting dan alur kerja para pembuatnya. Beton itu tidak dipoles menjadi sesuatu yang mengkilap, melainkan dibiarkan tampil apa adanya. Proses ini mengingatkan bahwa daya tahan sebuah material tidak melulu lahir dari kesempurnaan pabrikasi, melainkan dari kejujuran dan ketekunan saat merakitnya.

Di bagian dalam, plafon tinggi dan skylight dirancang untuk membuang udara hangat. Sistem ini teruji setelah bangunan berdiri: langkah pendinginan pasif nyata meringankan kerja pendingin udara buatan di tengah suhu Tangerang.

Bangunan ini dinamai Tresno, sebuah kata yang berarti cinta. Pada akhirnya, nama itu menemukan bentuknya bukan dari kemegahan visual, melainkan dari hal-hal yang saling melengkapi dan bersedia mengalah. Panas di barat ditahan agar area utara dan selatan bisa sejuk. Grid 3,6 meter menjadi tabir di sisi luar agar privasi ruang-ruang keluarga di lantai dua tetap terjaga. Dan yang paling berarti, kolaborasi desain berhasil memadukan tata letak feng shui dengan kepekaan iklim untuk menghadirkan keteduhan bagi penghuninya.

Keharmonisan keluarga tidak diciptakan semata oleh susunan dinding; ia ditumbuhkan oleh mereka yang bersedia hidup berdampingan dengan baik di baliknya. Arsitektur di sini hanyalah proses merakit beton, menyusun grid, dan membuka ruang bagi udara. Keluarga inilah yang pada akhirnya menghidupkan tresno tersebut setiap harinya.

Date:
Category:
Design

Realrich Architecture Workshop

Principal Architect

Realrich Sjarief