RAW Architecture

Architecture Mastery it’s Natural State

Portfolio

022 – Piyandeling (Saderhana)

022 – Piyandeling (Saderhana)

(EN)

Within the Piyandeling complex in Mekarwangi Village, this building is named with a word that demands the restraint of ego: Saderhana, the way the Sundanese tongue pronounces sederhana (simple). Yet, designing simplicity on a challenging site proved to be far from easy. As the most straightforward structure of the three buildings on the plot, standing alongside Sumarah and Kujang, it stems from a spatial irony: this single-story building was forced to reconcile functions that often demand separation—a halfway space for living, a silent space for prayer, and a functional area for storage.

Its initial requirement was deeply grounded: to find the quietest point for a prayer and meditation room, isolated from the commotion of studio activities and the chorus of insects in the open nature. Herein lay the irony. We needed a space that was silent and stable, but the available land was merely an irregular depression in the earth that seemingly refused to be built upon. Forcefully filling and leveling the ground would clearly be an arrogant and expensive intervention.

Rather than fighting the contours of the earth, our design hypothesis relied on an adaptive leveling tactic. Borrowing the foundation excavation logic of Alvar Aalto’s Säynätsalo Town Hall, we decided to dissect the terrain. The concave section was excavated to a depth of only about 30 cm, ensuring the floor remained above street level and safe from the threat of water runoff. The excavated soil was not discarded; instead, it was piled up to level the elevation of the land above it. This pragmatic decision to manipulate the earth unexpectedly gave birth to a new spatial reality: a residual volume on the lower level that ultimately materialized into the quiet, contemplative prayer space we had been searching for.

Naturally, splitting the earth brought a cascade of structural consequences. We immediately required a retaining wall. At this point, the stage was handed back to the ingenuity of the craftsmen on site. We utilized simple methods in accordance with available resources: the retaining wall was cast using bamboo formwork and reinforcement. Massive concrete pouring was only applied to flat surfaces and a small fraction of the circular area. Meanwhile, to shelter the structure, we abandoned the ambition of creating complex concrete curves, replacing it with a far more efficient A-frame silhouette.

Arranging the circulation also required careful attention so as not to ruin the essence of simplicity. Instead of constructing a rigid and cumbersome staircase, the downward access to the meditation room was resolved with a gentle ramp. This element was assembled bare: just a standard cement mix, entirely devoid of steel rebar or artificial coloring.

Above ground, the main building—comprising multifunctional chambers—appears simple in the literal sense. Its envelope is assembled from an uncomplicated bamboo framework. The northern and southern sides are left wide open to ensure cross-ventilation flows unhindered. At the base, the entire building sits on an earthy, raw stone podium. The combination of this stone footing and the minimal use of massive interventions on the earth keeps the structure stable in response to the hilly contours of Bandung.

At the end of its journey, Saderhana reawakened our perspective on the process of creation. Architectural space is often born not from aesthetic desires forced from above, but from the diligence of reading the problems of the earth beneath our feet. Raw materials and complex contours, when assembled honestly without excessive polish, are capable of becoming a sanctuary that nurtures life, reflection, and human humility within.

 


 

(IDN)

Di dalam kompleks Piyandeling, Desa Mekarwangi, bangunan ini dinamai dengan sebuah kata yang menuntut penahanan ego: Saderhana, cara lidah Sunda mengucapkan sederhana. Namun merancang kesederhanaan di atas lahan yang menantang terbukti jauh dari kata mudah. Sebagai struktur paling lugas dari tiga bangunan di tapak itu, berdiri mendampingi Sumarah dan Kujang, ia berangkat dari sebuah ironi keruangan: bangunan satu lantai ini justru dipaksa mendamaikan fungsi-fungsi yang sering menuntut pemisahan, ruang singgah untuk hidup, ruang sunyi untuk berdoa, sekaligus area fungsional untuk menyimpan barang.

Kebutuhan awalnya sangat membumi: mencari titik paling hening untuk ruang doa dan meditasi, terasing dari keriuhan aktivitas studio maupun nyanyian serangga di alam terbuka. Di sinilah ironi itu muncul. Kami membutuhkan ruang yang hening dan stabil, namun lahan yang tersedia hanyalah cerukan tanah tak beraturan yang seolah menolak untuk dibangun. Menguruk dan meratakan tanah secara paksa jelas akan menjadi intervensi yang arogan dan mahal.

Alih-alih melawan kontur bumi, hipotesis desain kami bertumpu pada taktik leveling yang adaptif. Meminjam logika galian fondasi pada Säynätsalo Town Hall karya Alvar Aalto, kami memutuskan membedah tanah. Bagian yang mencekung digali sedalam kurang lebih 30 cm saja, agar lantainya masih berada di atas level jalan dan aman dari ancaman limpasan air. Tanah hasil galian tidak dibuang, melainkan ditumpuk untuk meratakan elevasi lahan di bagian atasnya. Keputusan pragmatis memanipulasi tanah ini secara tak terduga melahirkan realitas keruangan yang baru: sebuah volume sisa di lantai bawah yang akhirnya mewujud menjadi ruang doa berdiam diri yang selama ini dicari.

Tentu saja, membelah tanah memunculkan rentetan konsekuensi struktural. Kami seketika membutuhkan dinding penahan tanah. Di titik inilah panggung diserahkan kembali kepada kelihaian para perajin di lapangan. Kami memakai cara sederhana sesuai sumber daya yang tersedia: dinding penahan dicetak menggunakan bekisting dan tulangan dari bambu. Cor beton masif hanya diaplikasikan pada bidang datar dan sebagian kecil area melingkar. Sementara untuk menaungi strukturnya, kami menanggalkan ambisi membuat lengkungan beton yang rumit dan menggantinya dengan struktur bersiluet huruf A yang jauh lebih efisien.

Penataan sirkulasi pun membutuhkan kehati-hatian agar tidak merusak esensi kesederhanaan. Alih-alih membuat konstruksi tangga yang repot dan kaku, akses turun menuju ruang meditasi diselesaikan dengan sebuah ramp landai. Elemen ini dirakit secara telanjang: hanya adukan semen biasa, tanpa sisipan besi tulangan maupun pewarna buatan.

Di atas permukaan tanah, bangunan utama yang terdiri dari bilik-bilik multifungsi tampil sederhana dalam artian harfiah. Selubungnya dirakit dari kerangka bambu yang tidak rumit. Sisi utara dan selatan dibuka lapang untuk memastikan ventilasi silang mengalir tanpa hambatan. Di bagian bawah, seluruh bangunan didudukkan pada podium batu mentah yang membumi. Paduan antara pijakan batu dan minimnya sentuhan masif pada tanah menjaga struktur tetap stabil merespons kontur perbukitan Bandung.

Pada akhir perjalanannya, Saderhana menyadarkan kembali pandangan kami tentang proses mencipta. Ruang arsitektur sering kali lahir bukan dari keinginan estetis yang dipaksakan dari atas, melainkan dari ketelatenan membaca masalah tanah di bawah kaki kita. Material mentah dan kontur yang rumit, jika dirakit dengan jujur tanpa polesan berlebih, sanggup menjadi suaka yang merawat kehidupan, refleksi, dan kerendahan hati manusia di dalamnya.

Date:
Category: