RAW Architecture

Architecture Mastery it’s Natural State

Portfolio

021 – Piyandeling (Kujang)

021 – Piyandeling (Kujang)

(EN)

Unlike people’s assumptions about a pavilion being erected straight away in the middle of a site, Kujang actually became the most challenging puzzle in the Piyandeling complex. This building could not stand tall before the most fundamental problems in Mekarwangi Village were resolved: frequent water shortages and the absence of a proper resting place for the workers. Rather than forcing our ego to immediately showcase the pavilion’s form, we chose to step back for a moment, realizing that good architecture cannot be born out of chaotic site conditions.

Our hypothesis at the time was simple: settle the matters of the stomach and infrastructure first, and only then will space take shape beautifully. We mobilized our fellow craftsmen to complete the water utility arrangement at the rear, Saderhana, and to finalize the living quarters at the front, Sumarah. Once the water flowed and the builders could sleep soundly, only then did Kujang begin to be assembled in the center of the site. We opted for sympodial bamboo with a 4 to 5-meter grid, which naturally brought one absolute consequence: it deeply despised moisture. This condition forced the building to be lifted off the ground, forming an undercroft space that allows rainwater to flow freely into the earth, unhindered by concrete.

On the ground, floor plans are always tested by the weather. Fairly strong winds from the northwest forced the building’s mass to be bent into an L-shape—not as an aesthetic decision, but as a climatic barricade protecting the courtyard. Considering the stairs in Sumarah were quite small, akin to those of a worker’s shack, we decided to create a gentler ramp in Kujang to make the space feel more expansive and welcoming. Its structural system borrows the logic of a konde, or an anchor: we created one denser structural point at the corner with a slight injection of concrete, and only then did the bamboo columns and other beams tie themselves to this anchor. Ultimately, the hyperboloid balustrade details on the upper floor—curving fluidly like a bird and the traditional kujang weapon that protects the structure—are the result of hand-carved craftsmanship, not mere machine molds.

Looking at Kujang as it stands today feels like harboring a projection of the future: there is a dream that one day this bamboo roof will become a garden meant for daily footsteps. Standing atop Kujang offers a magical sensation akin to ascending the steps of Candi Sukuh, where the horizon suddenly bursts wide open. At its highest point, this pavilion feels closest to the ancient meaning of nirvana: the momentary extinguishing of all hustle and noise. By releasing material ego, this humbly bowing bamboo structure actually broadens the horizon and grants the most profound sense of tranquility.

 


 

(IDN)

Berbeda dengan bayangan orang tentang sebuah paviliun yang langsung didirikan di tengah lahan, Kujang justru menjadi teka-teki paling menantang di kompleks Piyandeling. Bangunan ini tidak bisa berdiri tegak sebelum masalah paling mendasar di Desa Mekarwangi terselesaikan: air yang sering mati dan ketiadaan tempat istirahat yang layak untuk para pekerja. Daripada memaksakan ego untuk langsung memamerkan bentuk paviliun, kami memilih mundur sejenak, menyadari bahwa arsitektur yang baik tidak akan lahir dari kondisi lapangan yang carut-marut.

Hipotesis kami waktu itu sederhana: selesaikan dulu urusan perut dan infrastruktur, baru ruang akan terbentuk dengan indah. Kami mengerahkan teman-teman pengrajin untuk menuntaskan penataan air utilitas di area belakang, Saderhana, dan merampungkan ruang tinggal di depan, Sumarah. Setelah air mengalir dan tukang bisa tidur nyenyak, barulah Kujang mulai dirakit di tengah lahan. Kami memilih bambu simpodial dengan grid 4 sampai 5 meter, yang secara natural membawa satu konsekuensi mutlak: ia sangat benci kelembapan. Kondisi ini memaksa bangunan diangkat dari tanah, membentuk ruang kolong yang membiarkan air hujan bebas mengalir ke resapan tanpa terhalang beton.

Di lapangan, rencana denah selalu diuji oleh cuaca. Angin dari arah barat laut yang cukup kencang memaksa massa bangunan ditekuk membentuk huruf L, bukan sebagai keputusan estetika, melainkan sebagai barikade iklim pelindung area halaman. Mengingat tangga di Sumarah ukurannya cukup kecil layaknya tangga bedeng, kami memutuskan membuat jalur ramp yang lebih landai di Kujang agar ruang terasa lebih lapang dan ramah. Sistem strukturnya meminjam logika konde, atau jangkar: kami membuat satu titik struktur yang lebih rapat di sudut dengan sedikit suntikan beton, barulah kolom-kolom bambu dan balok lainnya mengikatkan diri ke jangkar tersebut. Pada akhirnya, detail-detail balustrade hiperboloid di lantai atas yang meliuk luwes layaknya burung dan senjata kujang yang melindungi struktur adalah hasil pahatan tangan pengrajin, bukan sekadar cetakan mesin.

Melihat Kujang yang kini berdiri, rasanya seperti menyimpan sebuah proyeksi tentang masa depan: ada mimpi untuk suatu hari menjadikan atap bambu ini taman yang bisa dipijak sehari-hari. Berada di atas Kujang memberikan perasaan magis layaknya menaiki undakan Candi Sukuh, ketika tiba-tiba cakrawala terbuka begitu lebar. Di titik tertingginya, paviliun ini seolah paling dekat dengan makna tua kata nirwana: padamnya hiruk-pikuk, sejenak. Dengan melepaskan ego material, struktur bambu yang merunduk rendah hati ini justru membuka horizon dan memberikan ketenangan yang paling utuh.

Date:
Category: