(EN)
This house is named Bare Minimalist — naked, as minimal as possible. But the most “naked” wall in this house is actually the most layered one, and that is not a failure; that is the point. When RAW was newly founded in 2010, there was not a single built work we could show — just a young studio, with time, sweat, and wallets that we calculated every day.
Then came a plot of land: 8 × 24 m², elongated like a hallway amidst the density of West Jakarta, owned by a client who brought the clearest brief we had ever received. “Functional. Energy-efficient. Inexpensive. Finished in a year. Safe, easy to maintain, and bearing a ‘naked’ expression.” For a newborn studio, such a clear brief was both a trust and a test — and this house subsequently became our first built work.
People often think minimalism is a matter of taste. On a plot like this, it is a matter of calculation. At eight meters wide, every wall we build consumes space we cannot get back; every partition is an expansiveness lost forever. Thus, this house has no formal guest room — a space that in our custom is almost mandatory. We left the ground floor open: the lounge flows into the kitchen, its layout adapting to the owner’s daily habits, and the only enclosed space is the workspace. We were not trying to be stylish. On such a narrow plot, we learned that spaciousness is not something added, but rather what remains after we find the courage to let go.
But openness never comes for free. This house had to give up something in two places to achieve it.
The consequence appeared first on the west side, which confronts the harshest of Jakarta’s heat. Because opening up the north, east, and south is only possible if the west is tightly sealed, that wall bears the burden — and this is where the irony of this house begins. That two-story wall, the plane that according to the house’s name should be the most naked, ironically became the most layered one in the entire house: air cavities, insulation, additional framing, and GRC cladding. The plane that appears the plainest turned out to be the most complicated to execute.
There is an old theory by Gottfried Semper that the true wall of architecture is born not from structure, but from the envelope that wraps it. Bare Minimalist affirms this in an ironic way: the side named the most “naked” is precisely the side wrapped in the most layers. Yet, that massive wall without openings provided more than what was asked: besides resisting the heat, it became the backbone for the entire house — a quiet plane on the long side that makes an eight-meter-wide plot actually read as more spacious, because the eye is not fragmented by openings on both sides. Sealing the west, in the end, is one of the ways this house makes itself spacious precisely by letting go.
The second is in the heart of the house. For that three-story-high foyer, we took 2 × 2 m² of floor space — on a plot that most lacked floor space — for the sake of a tunnel of light and wind, from the ground floor to the roof garden. It unites the entrance, the rooms, and the stairs in a single draw of air, allowing this house to be bright and cool without constantly relying on machines. On a plot this thin, light and wind actually demand space in exchange. We chose to give it.
There were also things we did not end up installing. Solar panels were once part of the dream for this house that aspired to be energy-efficient — but the owner himself held it back, after weighing the costs and maintenance in 2011, when the technology was still expensive and cumbersome for our context. We did not force it. Part of honest design is accepting the limits brought by its inhabitants, not masking them with ideals.
It was our client who named it Bare Minimalist. We never claimed minimalism; we merely tried to execute the plot’s calculations as honestly as possible. Years later, the owner called his house by another name: Open House Technology. The name shifted from how this house looks to how it works — and for us, that is the most meaningful appraisal from an inhabitant. A successful house, perhaps, is one that transcends its first name.
This house was completed in 2011. If we were to work on it again today, most of its core decisions would remain: the west would still be sealed, spaciousness would still be pursued through letting go. But there is one thing we would change. This entire house is actually one interconnected air system — the central void, the stairs, the open family room, and the connections between the rooms upstairs, all breathing through a single vertical cavity. We designed it to flow entirely naturally.
Years later, at Kampoong Guha, we learned that a single exhaust fan at the top of that cavity could activate the entire system much more powerfully: sucking hot air out from the highest point, and thereby pulling fresh air up through every connected space beneath it. We let a system that was already correct operate at half capacity, because back then we did not know that a little mechanical help actually multiplies the natural.
And perhaps that is what we truly learned from this first work: in a house named naked, the most spaciousness is born precisely from what is surrendered the most.
(IDN)
Rumah ini diberi nama Bare Minimalist — telanjang, seminimal mungkin. Tapi dinding yang paling “telanjang” di rumah ini justru yang paling banyak berlapis, dan itu bukan kegagalan; itu intinya. Ketika RAW baru berdiri pada 2010, belum ada satu pun karya terbangun yang bisa kami tunjukkan — hanya sebuah studio muda, dengan waktu, keringat, dan dompet yang setiap hari kami hitung.
Lalu datang sebuah lahan: 8 × 24 m², memanjang seperti lorong di tengah kepadatan Jakarta Barat, milik seorang klien yang membawa brief paling jelas yang pernah kami terima. “Fungsional. Hemat energi. Tidak mahal. Selesai dalam setahun. Aman, mudah dirawat, dan berekspresi ‘telanjang’.” Bagi studio yang baru lahir, brief sejelas itu adalah kepercayaan sekaligus ujian — dan rumah ini kemudian menjadi karya terbangun pertama kami.
Orang sering mengira minimalisme adalah soal selera. Di lahan seperti ini, ia adalah soal hitungan. Di lebar delapan meter, setiap dinding yang kami bangun memakan ruang yang tidak bisa kami kembalikan; setiap sekat adalah keluasan yang hilang selamanya. Maka rumah ini tidak punya ruang tamu — sebuah ruang yang di kebiasaan kita hampir wajib hadir. Lantai dasar kami biarkan terbuka: lounge mengalir ke dapur yang tata letaknya menyesuaikan kebiasaan pemiliknya sehari-hari, dan satu-satunya ruang tertutup adalah ruang kerjanya. Kami tidak sedang bergaya. Di lahan sesempit ini, kami belajar bahwa kelapangan bukanlah sesuatu yang ditambahkan, melainkan yang tersisa setelah kami berani melepas.
Tapi keterbukaan tidak pernah datang cuma-cuma. Rumah ini harus merelakan sesuatu di dua tempat untuk mendapatkannya.
Konsekuensinya muncul lebih dulu di sisi barat, yang menghadang panas Jakarta paling keras. Karena membuka utara, timur, dan selatan hanya mungkin bila barat ditutup rapat, dinding itulah yang menanggung bebannya — dan di sinilah ironi rumah ini bermula. Dinding dua lantai itu, bidang yang menurut nama rumahnya seharusnya paling telanjang, justru menjadi yang paling berlapis di seluruh rumah: rongga udara, insulasi, rangka tambahan, pelapis GRC. Bidang yang tampak paling polos ternyata yang paling rumit dikerjakan.
Ada teori lama dari Gottfried Semper bahwa dinding sejati arsitektur lahir bukan dari struktur, melainkan dari selubung yang membungkusnya. Bare Minimalist menegaskan itu dengan cara yang ironis: sisi yang namanya paling “telanjang” justru sisi yang paling banyak dibungkus lapisan. Namun, dinding masif tanpa bukaan itu memberi lebih dari yang diminta: selain menahan panas, ia menjadi punggung bagi seluruh rumah — sebuah bidang tenang di sisi panjang yang membuat lahan selebar delapan meter justru terbaca lebih lapang, karena mata tidak terpecah oleh bukaan di kedua sisinya. Menutup barat, pada akhirnya, adalah salah satu cara rumah ini melapangkan dirinya justru dengan melepas.
Yang kedua ada di jantung rumah. Untuk foyer setinggi tiga lantai itu, kami mengambil 2 × 2 m² luas lantai — di lahan yang justru paling kekurangan luas lantai — demi sebuah terowongan cahaya dan angin, dari lantai dasar sampai taman atap. Ia menyatukan pintu masuk, ruang-ruang, dan tangga dalam satu tarikan udara, dan membuat rumah ini bisa terang serta sejuk tanpa terus bergantung pada mesin. Di lahan setipis ini, cahaya dan angin justru menuntut ruang sebagai gantinya. Kami memilih memberikannya.
Ada juga yang tidak jadi kami pasang. Panel surya sempat masuk angan-angan rumah yang bercita-cita hemat energi ini — tapi pemiliknya sendiri yang menahannya, setelah menimbang biaya dan perawatannya pada tahun 2011, ketika teknologi itu masih mahal dan merepotkan untuk konteks kita. Kami tidak memaksakannya. Sebagian dari merancang yang jujur adalah menerima batas yang dibawa penghuninya, bukan menutupinya dengan cita-cita.
Klien kamilah yang menamainya Bare Minimalist. Kami tidak pernah mengklaim minimalisme; kami hanya berusaha mengerjakan hitungan lahan sejujur mungkin. Bertahun-tahun kemudian, pemiliknya menyebut rumahnya dengan nama lain: Open House Technology. Nama itu bergeser dari bagaimana rumah ini terlihat ke bagaimana ia bekerja — dan bagi kami, itu penilaian yang paling berarti dari seorang penghuni. Sebuah rumah yang berhasil, barangkali, adalah rumah yang melampaui nama pertamanya.
Rumah ini selesai tahun 2011. Kalau mengerjakannya lagi hari ini, sebagian besar keputusan pokoknya tetap: barat tetap ditutup, kelapangan tetap ditempuh dengan melepas. Tapi ada satu yang akan kami ubah. Seluruh rumah ini sebetulnya satu sistem udara yang terhubung — void di tengah, tangga, ruang keluarga yang terbuka, dan hubungan antar-kamar di atas, semuanya bernapas lewat satu rongga vertikal. Kami merancangnya mengalir sepenuhnya secara alami.
Bertahun-tahun kemudian, di Kampoong Guha, kami belajar bahwa satu kipas penyedot di puncak rongga itu bisa mengaktifkan seluruh sistem jauh lebih kuat: menyedot udara panas keluar dari titik tertinggi, dan dengan begitu menarik udara segar naik melalui setiap ruang yang terhubung di bawahnya. Sistem yang sudah benar itu kami biarkan bekerja setengah tenaga, karena dulu kami belum tahu bahwa sedikit bantuan mekanis justru melipatgandakan yang alami.
Dan mungkin itulah yang sesungguhnya kami pelajari dari karya pertama ini: pada sebuah rumah yang diberi nama telanjang, yang paling lapang justru lahir dari yang paling banyak direlakan.
April 9, 2025