(EN)
Sawo Morahai House began with a simple question: could a house amidst Jakarta’s urban density accommodate the Eastern Indonesian cultural roots so closely tied to its owner, without rendering them a mere visual display? On a fairly dense plot, the owner brought forth a very clear necessity: a home that must always remain open to guests. For its inhabitants, a house is not merely a shelter, but a space to nurture community and identity.
Initially, there was a hope for the house to appear expressive, embodying the forms of mountains and seas with the dynamic curves typical of Eastern Indonesia’s natural landscapes. However, the tiny plot size posed a very real limitation. Those grand curved forms could not be fully realized. As a compromise, this expression was negotiated through the facade and material selection. The facade of this house is designed to resemble a boat docked upon Jakarta’s built-up earth. Ulin wood (ironwood) was chosen for its organic texture and the way it ages naturally, arranged to form elements resembling ship masts and the distinctive totems of Eastern Indonesia. The western side was then tightly sealed off to block the heat, a move that gave rise to air gaps and terraces, allowing light to still slip in softly and beautifully diffused. Ultimately, this facade stands not merely as an embellishment, but as a protector.
On the ground floor, the building’s design attempts to blend in with the surrounding neighborhood. The initial hope was to make this house seamlessly integrate and act as a direct extension to the RPTRA (Child-Friendly Integrated Public Space) right in front of it. Unlike the initial formal ambitions which had to be restrained, this social plan was successfully realized. A tiny security post integrated with a public reading room was built, enabling the homeowner to participate in guarding and nurturing the surrounding environment. The four-car garage was also not left to be a dead space. This area was designed as a flexible space whose boundaries dissolve towards the neighborhood park. Partitions were removed, the foyer and terrace were opened up, blurring the boundary between the house and the public space. The house inherently learns to weave into the daily rhythms of the neighbors.
Moving upward, the spatial division begins to take shape. The second floor becomes a social area, containing a library and a living room, with a workspace in the middle functioning as the operational axis. Meanwhile, the third floor is allocated specifically for family privacy, housing the master bedroom and children’s rooms.
In determining this layout, there were feng shui guidelines from the client that needed to be accommodated. At first, these guidelines seemed to restrict the freedom of spatial placement. Yet, when applied meticulously, they surprisingly brought benefits aligned with a climate-responsive approach. By following these calculations, the master bedroom was pushed to the inner side of the building, away from the scorching exposure of the western sun. This layout rule indirectly acts as a natural cooling principle that protects the most intimate spaces within the house.
At the very top, a rooftop garden equipped with table tennis facilities and a pantry is provided as a tranquil retreat. Considering that large-scale natural elements could not be fully brought in, the strategy was to weave greenery in a dispersed manner. Nature in this house is present as a collage: borrowing the lush view of the RPTRA on the lower terrace, infiltrating the gaps of the balconies, and growing slowly in the roof garden. The presence of the RPTRA across the street is essentially a slice of nature itself, and this house only needs to let itself remain open to welcome it.
This house was not built merely to look beautiful at the outset. The process of placing openings along the staircase, for instance, went through various iterations so the interior would receive ample natural light, allowing the textures of the ulin wood and grey walls to be clearly visible without feeling dim. Bringing the cultural identity of Eastern Indonesia to Jakarta turns out to demand more than just the insertion of visual elements; it requires spaces ready to warmly host social activities, while still providing quiet corners for rest.
The name of this house, Sawo Morahai, serves as a marker of a place to take root. Years from now, when the ulin wood begins to age and the facade’s colors fade from the weather, this house will slowly shed its label as an architectural work. It will transition into a boat that has seamlessly merged with Jakarta’s urban daily life. For a successful house is not one that remains looking as pristine as the day it was built, but one that continues to live, ages together with, and accompanies its inhabitants in nurturing memories of their homeland.
(IDN)
Rumah Sawo Morahai bermula dari sebuah pertanyaan yang sederhana: bisakah sebuah rumah di tengah kepadatan urban Jakarta menampung akar budaya Indonesia Timur yang lekat dengan pemiliknya, tanpa menjadikannya sekadar pajangan visual? Di lahan yang cukup padat, pemiliknya membawa kebutuhan yang sangat jelas: sebuah hunian yang harus selalu terbuka bagi tamu. Bagi penghuninya, rumah bukan sekadar tempat berlindung, melainkan ruang untuk merawat komunitas dan identitas.
Pada mulanya, ada harapan agar rumah ini tampil ekspresif, membawa wujud gunung dan laut dengan lengkung-lengkung dinamis khas lanskap alam Indonesia Timur. Namun luasan lahan yang mungil memberi batasan yang nyata. Bentuk-bentuk melengkung yang besar itu tidak bisa dihadirkan secara maksimal. Sebagai jalan tengah, ekspresi tersebut dinegosiasikan pada bagian fasad dan pemilihan materialnya. Fasad rumah ini dirancang menyerupai perahu yang sedang berlabuh di tanah urukan Jakarta. Kayu ulin dipilih karena teksturnya yang organik dan menua secara alami, disusun membentuk elemen yang menyerupai tiang kapal dan totem khas Indonesia Timur. Sisi barat kemudian ditutup rapat untuk menahan panas, sebuah langkah yang melahirkan celah-celah udara dan teras agar cahaya tetap bisa menyelinap masuk dengan lembut dan terdifusi. Fasad ini pada akhirnya hadir bukan sekadar pemanis, melainkan pelindung.
Di lantai dasar, desain bangunan mencoba berbaur dengan lingkungan sekitar. Harapan awalnya adalah membuat rumah ini melebur dan menjadi penyambung langsung dengan RPTRA, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, di depannya. Berbeda dengan ambisi bentuk awal yang harus tertahan, rencana sosial ini justru berhasil diwujudkan dengan baik. Sebuah pos satpam mungil yang menyatu dengan ruang baca publik berhasil dibangun, sehingga pemilik rumah bisa ikut menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya. Garasi yang memuat empat mobil juga tidak dibiarkan menjadi ruang mati. Area ini dirancang sebagai ruang fleksibel yang batasnya mencair ke arah taman warga. Sekat-sekat dilepas, foyer dan teras dibuka, sehingga batas antara rumah dan ruang publik menjadi pudar. Rumah ini dengan sendirinya belajar berbaur dengan keseharian tetangga.
Bergerak ke atas, pembagian ruang mulai terbentuk. Lantai dua menjadi area sosial, berisi perpustakaan dan ruang tamu, dengan ruang kerja di tengah yang berfungsi sebagai poros operasional. Sementara lantai tiga dialokasikan khusus untuk privasi keluarga, menampung kamar tidur utama dan kamar anak.
Dalam menentukan tata letak ini, terdapat panduan feng shui dari klien yang perlu diakomodasi. Pada awalnya, panduan ini tampak membatasi keleluasaan menempatkan ruang. Namun ketika diterapkan secara saksama, panduan itu justru membawa manfaat yang selaras dengan pendekatan iklim. Karena mengikuti hitungan tersebut, kamar tidur utama terdorong ke sisi dalam bangunan, menjauh dari paparan terik matahari barat. Aturan tata letak ini secara tidak langsung bekerja sebagai prinsip pendinginan alami yang melindungi ruang paling intim di dalam rumah.
Di bagian puncak, sebuah kebun atap dengan fasilitas tenis meja dan pantri disediakan sebagai tempat bersantai yang tenang. Mengingat elemen alam berskala besar tidak bisa dihadirkan sepenuhnya, strateginya adalah merajut elemen hijau secara tersebar. Alam di rumah ini hadir dalam bentuk kolase: meminjam rimbunnya pemandangan RPTRA di teras bawah, menyusup di sela-sela balkon, dan tumbuh perlahan di kebun atap. Keberadaan RPTRA di seberang bangunan pada dasarnya adalah potongan alam itu sendiri, dan rumah ini hanya perlu membiarkan dirinya terbuka untuk menyambutnya.
Rumah ini tidak dibangun sekadar untuk tampil indah di awal. Proses penempatan bukaan di sepanjang tangga, misalnya, melalui berbagai iterasi agar ruang interior mendapat cahaya alami yang cukup, sehingga tekstur kayu ulin dan dinding abu-abu bisa terlihat jelas tanpa terasa redup. Membawa identitas budaya Indonesia Timur ke Jakarta ternyata menuntut lebih dari sekadar sisipan elemen visual; ia membutuhkan ruang yang siap menampung kegiatan sosial dengan hangat, namun tetap menyediakan sudut yang tenang untuk beristirahat.
Nama rumah ini, Sawo Morahai, menjadi penanda akan sebuah tempat untuk berakar. Bertahun-tahun ke depan, ketika kayu ulin itu mulai menua dan warna fasadnya memudar karena cuaca, rumah ini perlahan akan melepaskan labelnya sebagai karya arsitektur. Ia akan beralih menjadi sebuah perahu yang telah menyatu dengan keseharian urban Jakarta. Sebab rumah yang berhasil bukanlah yang tetap tampak baru seperti saat pertama dibangun, melainkan yang terus hidup, menua bersama, dan menemani penghuninya merawat ingatan dari kampung halaman.
April 9, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief