(EN)
This school stands on land that no one wanted. Former swamps and rice fields in Salembaran, Tangerang — unstable watery land, threatened by seasonal floods, and according to local regulations, ironically the only area where building was permitted. We did not choose the swamp; we were simply given no other choice. What we could choose was how the building stood upon it: we raised the entire school 2.1 meters above the ground, resting on concrete pillars, letting the swamp remain a swamp beneath it.
The brief from our client was simple and radical: a school with the belief that every child is a genius — a curriculum that does not rely on academic grades, which gives room for craftsmanship, applied arts, social sensitivity, and ecological awareness. Over time, we realized the rhyme: a school for children who are not measured by a single number, standing on land that is not valued at a single rupiah by the market. Both were rejected by equally narrow metrics.
Ivan Illich once questioned the school as an institution — because schools, he said, often teach children to measure themselves by numbers and diplomas instead of learning from the world. Alfa Omega does not refuse to be a school; it tries to be a school that absorbs that critique into itself — a place of learning where the teachers are also the swamp, the hands, and the work, not just the grades on a report card. Both, it turns out, only needed a different way of standing.
So we turned that limitation into a lesson. Because the school hovers, the swamp beneath it did not die — it becomes a living courtyard, and nature becomes a part of the daily lives of three hundred students from early childhood education to high school. Four clusters of classrooms are arranged radially surrounding a central courtyard, connected to a star-shaped building where the children craft and create. Its structure is three-layered, just as the land itself is layered: concrete pillars at the bottom, steel frames and hollow brick walls in the middle — bricks arranged in curves to let the wind pass through — and on top, bamboo with a sweeping, undulating nipa roof.
Its classrooms are open and flowing, the temperature hovering around 27°C year-round without air conditioning. We only added air conditioning later, after the school was running and the users provided feedback — not for the classrooms, but for the spaces storing items that are more vulnerable to humidity and dust, such as documents. This building continues to listen to its users, even after it is inhabited.
This school did not wait to be finished to start living. In the first five months — August to January 2017 — its classrooms were already in use, while construction continued around them for about a year afterward with increasingly explorative bamboo materials. The children learned inside a building that was still growing. Forty bamboo craftsmen from Sumedang worked on its entire lightweight structure — hands that would later also build our own house.
There was one decision that originated from us but became the client’s. Access to this site was difficult — and we proposed building an entrance road. The owner did not merely agree: he built a 1.5-kilometer road, costing a third of the land’s price, then opened it to the public, so that even before the school stood, the road was already serving the surrounding villages. We only proposed a road; the decision to turn it into a gift was entirely theirs. That openness is what taught us — that sometimes a school’s first lesson is given not by its teachers, but by how one arrives at its site.
Nine years later, we are calculating the cost of choosing living materials. The nipa on its roof has decayed — and some are damaged because birds have taken it, strand by strand, to build nests. Its bamboo is aging and demands significant maintenance; some structures eventually had to be sacrificed, including the triangular bridge at the front — the workers’ path that once delivered every material into the site and then welcomed the schoolchildren every morning, has now been dismantled. The school built so that children could be close to nature turned out to exceed its intentions: nature did not just draw closer, it also partook in the harvest. We chose what is alive, and what is alive ages. That was no surprise; it was the contract we signed from the beginning, and nine years later we are paying the installments.
This school is named Alfa Omega — the beginning and the end. It was not us who named it; the name came from its foundation. But the building slowly grew into that name — built from rejected land, for unmeasured children, constantly aging and renewing itself as if it were never truly finished. Perhaps that is exactly how a place of learning should be: never concluded.
__________________________________________________________________________
(IDN)
Sekolah ini berdiri di atas tanah yang tidak diinginkan siapa pun. Bekas rawa dan sawah di Salembaran, Tangerang — tanah berair yang labil, terancam banjir musiman, dan menurut peraturan setempat justru satu-satunya area yang boleh dibangun. Kami tidak memilih rawa itu; kami hanya tidak diberi pilihan lain. Yang bisa kami pilih adalah bagaimana _bangunan_ berdiri di atasnya: seluruh sekolah kami angkat _2,1_ meter di atas tanah, bertumpu pada tiang-tiang beton, membiarkan rawa tetap rawa di bawahnya.
Brief dari klien kami sederhana dan radikal: sekolah dengan keyakinan bahwa setiap anak adalah genius — kurikulum yang tidak bergantung pada nilai akademik, yang memberi ruang bagi ketukangan, seni terapan, kepekaan sosial, dan kesadaran ekologis. Lama-lama kami menyadari rimanya: sekolah untuk anak-anak yang tidak diukur dengan satu angka, berdiri di atas tanah yang tidak dihargai satu rupiah pun oleh pasar. Keduanya ditolak oleh ukuran yang sama sempitnya.
Ivan Illich pernah mempertanyakan sekolah sebagai lembaga — karena sekolah, katanya, kerap mengajari anak mengukur dirinya dengan angka dan ijazah alih-alih belajar dari dunia. Alfa Omega tidak menolak menjadi sekolah; ia mencoba menjadi sekolah yang menampung kritik itu ke dalam dirinya sendiri — tempat belajar yang gurunya juga rawa, tangan, dan kerja, bukan hanya nilai _di rapor_. Keduanya, ternyata, hanya butuh cara berdiri yang berbeda.
Maka keterbatasan itu kami balik menjadi pelajaran. Karena sekolah melayang, rawa di bawahnya tidak mati — ia menjadi halaman yang hidup, dan alam menjadi bagian _dari_ keseharian tiga ratus murid dari PAUD sampai SMA. Empat klaster kelas tersusun radial mengelilingi halaman tengah, terhubung ke sebuah bangunan berbentuk bintang tempat anak-anak bertukang dan berkarya. Strukturnya tiga lapis, seperti tanahnya sendiri berlapis: tiang beton di bawah, rangka baja dan dinding bata berongga di tengah — bata yang disusun melengkung supaya angin lewat — dan di atasnya bambu dengan atap nipah yang berlekuk-lekuk.
Ruang-ruang kelasnya terbuka dan mengalir, _suhunya_ berkisar _27°C_ sepanjang tahun tanpa pendingin udara. Pendingin baru kami tambahkan belakangan, setelah sekolah berjalan dan _pengguna_ memberi masukan — bukan untuk kelas, melainkan untuk ruang-ruang yang menyimpan _barang-barang_ yang lebih rentan pada lembap dan debu, seperti dokumen. Bangunan ini terus mendengarkan pemakainya, bahkan setelah ia dihuni.
Sekolah ini tidak menunggu selesai untuk mulai hidup. Dalam lima bulan pertama — Agustus sampai Januari _2017_ — ruang-ruang kelasnya sudah dipakai, sementara pembangunan terus berjalan di sekelilingnya sampai kira-kira setahun sesudahnya dengan material bambu yang semakin eksploratif. Anak-anak belajar di dalam bangunan yang masih tumbuh. Empat puluh tukang bambu dari Sumedang mengerjakan seluruh struktur ringannya — tangan-tangan yang kelak juga membangun rumah kami sendiri.
Ada satu keputusan yang bermula dari kami tapi menjadi milik klien. Akses ke tapak ini sulit — dan kami mengusulkan membangun jalan masuk. Pemiliknya tidak hanya menyetujui: ia membangun jalan sepanjang _1,5_ kilometer, sepertiga dari harga tanahnya, lalu membukanya untuk umum, hingga sebelum sekolahnya berdiri jalan itu sudah melayani kampung di sekitarnya. Kami hanya mengusulkan sebuah jalan; keputusan menjadikannya pemberian sepenuhnya milik mereka. Keterbukaan itu yang mengajari kami — bahwa kadang pelajaran pertama sebuah sekolah diberikan bukan oleh gurunya, melainkan oleh cara ia datang ke tempatnya.
Sembilan tahun kemudian, kami menghitung harga dari memilih material yang hidup. Nipah di atapnya lapuk — dan sebagian _rusak karena_ burung-burung mengambilnya, helai demi helai, untuk _membangun sarang_. Bambunya menua dan menuntut perawatan yang tidak ringan; beberapa struktur pada akhirnya harus kami korbankan, termasuk jembatan segitiga di depan — jalan tukang yang dulu mengantar setiap material masuk ke tapak _lalu menyambut anak-anak sekolah setiap pagi_ , kini sudah dibongkar. Sekolah yang dibangun supaya anak-anak dekat dengan alam ternyata melampaui niatnya: alam tidak hanya mendekat, ia ikut memanen. Kami memilih yang hidup, dan yang hidup menua. Itu bukan kejutan; itu perjanjian yang kami tandatangani sejak awal, dan sembilan tahun kemudian kami membayar cicilannya.
Sekolah ini bernama Alfa Omega — awal dan akhir. Bukan kami yang menamainya; nama itu dari yayasannya. Tapi bangunannya perlahan tumbuh ke dalam nama itu — dibangun dari tanah yang ditolak, untuk anak-anak yang tidak diukur, dan terus menua serta memperbarui diri seolah tak pernah benar-benar selesai. Barangkali memang begitu seharusnya sebuah tempat belajar: tak pernah tamat.
May 16, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief