RAW Architecture

Architecture Mastery it’s Natural State

Portfolio

083 – MD House

083 – MD House

(EN)

This house is a portrait of the dense urban settlement phenomenon: an existing one-story dwelling on a 6-meter-wide plot facing southwest, exposed to the sweltering heat of Tangerang Regency. Within this cluster neighborhood, visual harmony is tightly guarded by the developer through a series of regulations, ranging from directives to include Ubud-style garden elements to the obligation of installing specific ornaments on the roof ridge. The developer’s intention to establish a uniform district identity is certainly well-meaning; however, for a plot this small, such formalistic demands become spatial and financial challenges that must be carefully navigated.

Our encounter with the young educator couple who own this house fostered a new ethical awareness. This is their first home, a starting point anchored in absolute trust in their architect, yet bounded by a highly measured budget. Considering the complexity of their daily routines—the husband required a technical area with a specialized smoke exhaust for laser cutting and 3D printing machines, while the wife longed for a reading nook and a wall for artistic expression—the existing single-story footprint would clearly be incapable of accommodating their lives.

Stemming from these needs, the design blueprint responded by expanding the functions vertically into two stories. We formulated a highly dense open-plan arrangement: the seating, dining, and kitchen areas were unified, while the technical workspace was integrated onto the ground floor, demarcated by sliding glass doors. The rigidity of the front facade was broken by injecting an external staircase structure and Mondrian-style glass inserts, providing breathing artistic value without triggering cost overruns. The upper floor accommodates two bedrooms, a laundry room, and a tiny fitness area featuring a glass floor that allows continuous daylight to penetrate the kitchen below.

Yet, spatial design on paper is always tested by how humans and materials adapt in the field. Confronting the middle-class housing crisis in our cities, structural interventions must be executed with extreme tactical precision to avoid damaging the old building. We embedded new structures in the form of steel columns flanking the existing ones, supporting corrugated metal floor decks that were left exposed but softened by strokes of paint and wood-trimmed ceilings.

The most thrilling test actually occurred during the execution method. Conscious of the tight budget, we abandoned the convention of producing thick working drawing packages, replacing them instead with a living 3D model. We equipped the cooperative owners with a basic understanding of three-dimensional software, and they slowly transformed into reliable on-site supervisors. They guided the workers and orchestrated the details through video calls and text messages, while we stood by them for every crucial decision.

Ultimately, the MD House is not just an ordinary residential renovation. It serves as a grounded prototype addressing a spatial crisis: the continuously shrinking plots in our cities can no longer be answered with conventional design; they demand highly strategic spatial tactics.

This experience reawakened our realization that a small project scale never diminishes the depth of empathy required. It is not the completeness of working drawing sheets that ultimately allows this house to breathe, but rather the open-heartedness of its inhabitants to step in and assemble their own space. This house grows quietly amidst the uniform regulations of its cluster, transforming into a living space that embraces its inhabitants’ needs despite its limitations.

 


 

(IDN)

Rumah ini merupakan potret dari fenomena permukiman padat kota: hunian eksisting satu lantai di kavling selebar 6 meter yang menghadap barat daya, terpapar panas matahari Kabupaten Tangerang. Di lingkungan kluster ini, keharmonisan visual dijaga erat oleh pengembang melalui sederet regulasi, mulai dari arahan menyertakan elemen taman ala Ubud hingga kewajiban memasang ornamen spesifik pada bubungan atap. Niat pengembang tentu baik untuk membangun identitas kawasan yang seragam, namun bagi lahan sekecil ini, tuntutan formalitas itu menjadi tantangan spasial dan finansial yang harus disiasati.

Pertemuan kami dengan sepasang pendidik muda pemilik rumah ini menumbuhkan sebuah kesadaran etis yang baru. Ini rumah pertama mereka, sebuah titik berangkat yang diikat kepercayaan penuh pada arsiteknya, namun dipagari anggaran yang sangat terukur. Mengingat kompleksitas keseharian mereka, sang suami membutuhkan area teknis berpembuangan asap khusus untuk mesin laser cutting dan cetak 3D, sang istri mendambakan sudut baca dan dinding ekspresi seni, luasan satu lantai eksisting jelas tidak akan sanggup mewadahi kehidupan mereka.

Berangkat dari kebutuhan itu, cetak biru desain merespons dengan pelebaran fungsi secara vertikal menjadi dua lantai. Kami merumuskan penataan ruang terbuka yang sangat padat: area duduk, makan, dan dapur disatukan, sementara ruang kerja teknis diintegrasikan di lantai dasar melalui sekat pintu kaca geser. Fasad depan dipecah kebekuannya dengan menyuntikkan struktur tangga eksternal dan sisipan kaca ala Mondrian, memberi nilai seni yang bernapas tanpa memicu pembengkakan biaya. Lantai atas diisi dua kamar tidur dan ruang cuci, dan area kebugaran mungil dengan lantai kaca yang membiarkan cahaya menerus ke area dapur di bawahnya.

Namun rancangan ruang di atas kertas selalu diuji oleh cara manusia dan material beradaptasi di lapangan. Menghadapi krisis ruang hunian kelas menengah di kota-kota kita, intervensi struktural harus dilakukan dengan sangat taktis agar tidak merusak bangunan lama. Kami menyematkan struktur baru berupa kolom baja yang mengapit kolom eksisting, menopang pelat lantai bondek yang dibiarkan terekspos namun dilembutkan oleh pulasan cat dan plafon berlis kayu.

Ujian paling mendebarkan justru terjadi pada metode eksekusi. Menyadari ketatnya anggaran, kami menanggalkan kelaziman paket gambar kerja yang tebal, dan menggantinya dengan model 3D yang hidup. Sang pemilik yang kooperatif kami bekali pemahaman peranti lunak tiga dimensi, dan mereka perlahan menjelma menjadi pengawas lapangan yang andal, menuntun para pekerja dan mengorkestrasi detail melalui panggilan video serta diskusi pesan singkat, dengan kami mendampingi di setiap keputusan penting.

Pada akhirnya, Rumah MD bukan sekadar renovasi hunian biasa. Ia prototipe untuk menjawab krisis ruang yang membumi: kavling yang terus menyusut di kota-kota kita tidak bisa lagi dijawab dengan desain konvensional, melainkan menuntut siasat ruang yang sangat strategis.

Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa skala proyek yang kecil tidak pernah mereduksi kedalaman empati yang dibutuhkan. Bukan kelengkapan lembar gambar kerja yang membuat rumah ini akhirnya bernapas, melainkan kelapangan hati penghuninya untuk turun tangan merakit ruang mereka sendiri. Rumah ini tumbuh dengan tenang di tengah aturan kluster yang seragam, menjelma ruang hidup yang merangkul kebutuhan penghuninya di tengah keterbatasan.

Date:
Category:
Design

Realrich Architecture Workshop

Principal Architect

Realrich Sjarief