RAW Architecture

Architecture Mastery it’s Natural State

Portfolio

018 – Kampoong Guha

018 – Kampoong Guha

(EN) 

At Guha, we did not build a building between a kampung and a housing estate. We built a kampung, inside a single building.

The land sits precisely at the seam of two worlds. To the north, Kampung Haji Brit, with alleys 1.5 meters wide. To the south, a Mediterranean-style estate with roads 6 meters wide.

In Jakarta, these two worlds rarely truly meet, except through their children. So we did not keep the front of this land for ourselves. We gave it to a children’s library, its curving modular wooden shelves becoming their own structure, built in 2014 and moved three times since. There, children from the alleys and children from the estate read, do their homework, and play in the same room, perhaps the only space in this neighborhood that belongs to both. The old flamboyant and rain trees were left standing, shading the path that connects the alley to the estate road.

In this house, we are our own client. There is no brief to blame, no one else’s budget to hide behind, every compromise is our own choice. And the compromises are real. This house is also a public library open every day, a studio office, a classroom, and a 12-room dormitory for the young designers who work with us. Being a principal here means looking after them from where they sleep to where they work, and opening your own bathroom to library visitors. We give up time, some privacy, and money, not as noble sacrifice, but as a conscious calculation. By living and working in one place, the studio can stay focused, frugal, and brave enough to try many new things.

And like a real kampung, this house is not only warm. There are many interests under one roof, like a row of tenement rooms. There is laughter, there are tears, there are personal memories piling up in every corner, and there is change that never stops arriving. We do not consider that a flaw. It is the sign that the house is alive. A kampung that is only warm is a kampung in a brochure.

The house has more than 200 doors, with structural spans no wider than 4 meters, a labyrinth. People often ask why. The answer is simple, we did not want to throw away what was old. This house was built in stages, over many years, and every time a new need arrived, we did not demolish the old partition, we gave it a door. Every door is an admission that this room was once another room, and will become another room again. New rooms can return to being old rooms, and the other way around. Some doors were even made to roll, moving from place to place like the people who live here. We believe change is certain, so this house was not designed to be finished. It was designed to keep changing without throwing itself away.

Guha also keeps the signatures of its makers. In various corners, the builders left drawings of their own, like tattoos on the building, diamond patterns, motifs resembling woven ikat, joints worked the way one would weave. We did not ask for them. They drew them as an exercise in earnestness, and as a way of honoring the work of their own hands.

The structure, too, is left visible. Light steel floats above a bamboo frame, and in places a glass floor lets us stand while looking down at the skeleton beneath. This house does not hide how it was made. It shows you, revealing its own hands, layers, and joints.

That conviction has a price, and we are paying it now. Building in stages means some decisions are made by the money available that day, not by ideals. We built the access bridge in light steel because it was cheap, fast, and possible, and today we look at it and ask why we did not use proper steel back then.

Some materials are aging faster than the building. But in this house, regret is not left to sit still. Our air chimney once had a 3 cm gap fitted with glass. When we learned it could be better, we removed the glass, opened the top wider with a new panel, and the old glass was not thrown away. It is now a floor plate, stepped on every day.

The question of why we only know now is never fully answered in this house, because every answer gives birth to the next dismantling. Other houses keep their regrets as memories. This house takes them apart, reassembles them, and turns what is left into a floor.

Above all this change, the house still works as one tropical body. Deep verandas and shading hold back Jakarta’s harshest sun, a stacked concrete foyer draws the air upward, and a green roof with an orchid garden keeps the rooms below under 30 degrees. On that roof live a goat, a gift from a client, along with turtles and chickens. We designed their pen, and the pen turned out to do more than we asked. Its droppings feed the plants, its roof gives shade, and the workspace beneath it stays cool enough for meetings. Even the gifts we never planned for are, in this house, assembled into the building.

We call this way of building bricolage, assembling from what is there, throwing nothing away, letting the old and the new pile up until the two become one. Not a style, but a practice. It lives in all of our work, but at Kampoong Guha it is at its most naked, most honest. This house is perhaps its most complete form, a building assembled over a lifetime and never considered finished.

We named it Kampoong Guha, and the name is a deliberate contradiction. A kampung is the most crowded of places. A guha is a cave, the most solitary. This house is both at once, a place where someone who loves silence chose to live among a hundred people, and found that the two can protect each other. Perhaps that is what we are truly testing here, not material, not climate, but how far a house can keep changing, keep holding friction and warmth at once, without ceasing to be a home.

 


 

(IDN)

Di proyek Guha, kami tidak membangun sebuah gedung di antara kampung dan komplek perumahan. Kami membangun sebuah kampung, di dalam satu bangunan.

Tanahnya berdiri tepat di jahitan dua dunia. Di utara, Kampung Haji Brit dengan gang selebar 1,5 meter. Di selatan, komplek bergaya Mediterania dengan jalan selebar 6 meter.

Dua dunia itu jarang benar-benar bertemu di Jakarta, kecuali lewat anak-anaknya. Maka bagian terdepan tanah ini tidak kami pakai sendiri, kami berikan pada sebuah perpustakaan anak, rak-rak kayu modular yang melengkung menjadi strukturnya sendiri, dibangun tahun 2014 dan sudah berpindah tiga kali. Di situ anak-anak dari gang dan dari komplek membaca, mengerjakan PR, dan bermain di ruang yang sama, barangkali satu-satunya ruang di lingkungan ini yang dimiliki keduanya. Pohon flamboyan dan trembesi yang lama kami biarkan berdiri, menaungi jalur yang menghubungkan gang dengan jalan komplek.

Di rumah ini kami adalah klien kami sendiri. Tidak ada brief untuk disalahkan, tidak ada batas anggaran orang lain untuk dijadikan alasan, setiap kompromi adalah pilihan kami. Dan kompromi itu nyata. Rumah ini juga perpustakaan publik yang buka setiap hari, kantor studio, ruang kelas, dan asrama 12 kamar untuk para desainer muda yang bekerja bersama kami. Menjadi prinsipal di sini berarti memperhatikan mereka dari tempat tinggal sampai tempat kerja, dan membuka kamar mandi sendiri untuk pengunjung perpustakaan. Kami merelakan waktu, sebagian privasi, dan uang, bukan sebagai pengorbanan yang mulia, tapi sebagai hitungan yang sadar, dengan hidup dan bekerja di satu tempat, studio bisa fokus, hemat, dan berani mencoba banyak hal baru.

Dan seperti kampung sungguhan, rumah ini tidak hanya hangat. Ada banyak kepentingan di bawah satu atap, seperti rumah petak. Ada canda dan tawa, ada tangis, ada kenangan personal yang menumpuk di setiap sudutnya, dan ada perubahan yang datang terus-menerus. Kami tidak menganggap itu kekurangan. Justru itu tandanya ia hidup. Kampung yang hanya hangat adalah kampung dalam brosur.

Rumah ini punya lebih dari 200 pintu, dengan bentang struktur ruang paling lebar 4 meter, sebuah labirin. Orang sering bertanya kenapa. Jawabannya sederhana, kami tidak mau membuang yang lama. Rumah ini dibangun bertahap, bertahun-tahun, dan setiap kali kebutuhan baru datang, sekat lama tidak kami robohkan, kami beri pintu. Setiap pintu adalah pengakuan bahwa ruang ini pernah menjadi ruang lain, dan akan menjadi ruang lain lagi. Ruang baru bisa kembali jadi ruang lama, dan sebaliknya. Beberapa pintu bahkan dibuat bisa digelindingkan, berpindah seperti penghuninya. Kami percaya perubahan itu pasti, maka rumah ini tidak dirancang untuk selesai. Ia dirancang untuk terus berubah tanpa membuang dirinya sendiri.

Guha juga menyimpan tanda tangan pembuatnya. Di berbagai sudut, para tukang meninggalkan gambar-gambar mereka sendiri, seperti tato pada bangunan, pola belah ketupat, motif yang menyerupai anyaman tenun ikat, sambungan yang dikerjakan seperti orang menganyam. Bukan kami yang menyuruh. Mereka menggambarnya sebagai latihan kesungguhan, dan sebagai cara menghargai kerja tangan mereka sendiri.

Struktur pun kami biarkan terlihat. Baja ringan melayang di atas struktur bambu, dan di beberapa tempat lantai kaca membuat kami memijak sambil memandang rangka di bawahnya. Rumah ini tidak menyembunyikan bagaimana ia dibuat. Ia menunjukkannya, memperlihatkan tangan, lapisan, dan sambungannya sendiri.

Keyakinan itu ada harganya, dan kami merasakannya sekarang. Membangun bertahap berarti sebagian keputusan dibuat oleh uang yang tersedia hari itu, bukan oleh idealisme. Jembatan akses kami kerjakan dengan baja ringan karena murah, cepat, dan bisa, dan hari ini kami memandanginya sambil bertanya kenapa dulu tidak memakai baja yang semestinya.

Sebagian material menua lebih cepat dari bangunannya. Tapi di rumah ini, penyesalan tidak dibiarkan diam. Cerobong udara kami dulu diberi celah 3 cm dengan kaca. Ketika kami tahu ia bisa lebih baik, kacanya kami lepas, bagian atas kami buka lebih lebar dengan panel baru, dan kaca bekasnya tidak dibuang, ia kini menjadi pelat lantai, dipijak setiap hari.

Pertanyaan kenapa baru tahu sekarang tidak pernah selesai dijawab di rumah ini, karena setiap jawabannya melahirkan pembongkaran berikutnya. Rumah lain menyimpan penyesalannya sebagai kenangan. Rumah ini membongkarnya, memasangnya ulang, dan menjadikan bekasnya lantai.

Di atas segala perubahan itu, rumah ini tetap bekerja sebagai satu tubuh tropis. Teras-teras dalam dan peneduh menahan matahari Jakarta yang paling keras, foyer beton bertumpuk menyusun udara naik, dan atap hijau berkebun anggrek menjaga ruang di bawahnya tetap di bawah 30 derajat. Di atasnya ada kambing, pemberian klien, juga kura-kura dan ayam. Kami rancang kandang mereka, dan kandang itu ternyata mengerjakan lebih dari yang kami minta. Kotorannya memupuk tanaman, atapnya menaungi, dan ruang kerja di bawahnya ikut adem, cukup teduh untuk dipakai rapat. Bahkan pemberian yang tak kami rencanakan pun, di sini, dirakit menjadi bagian bangunan.

Cara membangun seperti ini kami sebut brikolase, merakit dari yang ada, tidak membuang, membiarkan yang lama dan yang baru bertumpuk sampai keduanya menjadi satu. Bukan gaya, melainkan laku. Ia ada di setiap karya kami, tapi di Kampoong Guha ia paling telanjang, paling jujur. Rumah ini barangkali wujudnya yang paling utuh, bangunan yang dirakit seumur hidup dan tak pernah dianggap selesai.

Kami menamainya Kampoong Guha, dan nama itu sebuah kontradiksi yang disengaja. Kampung adalah tempat paling ramai. Guha adalah gua, tempat paling menyendiri. Rumah ini keduanya sekaligus, tempat seorang yang menyukai sunyi memilih hidup di tengah seratus orang, dan menemukan bahwa keduanya bisa saling menjaga. Barangkali itulah yang sesungguhnya kami uji di sini, bukan material, bukan iklim, tapi seberapa jauh sebuah rumah bisa terus berubah, terus memuat gesekan dan kehangatan sekaligus, tanpa berhenti menjadi rumah.

Date:
Category:
Design

Realrich Architecture Workshop

Principal Architect

Realrich Sjarief