(EN)
Designing Rumah Ngumpar was not a smooth process from the start. The 300-square-meter plot in Bintaro was actually quite spacious, but its irregular corner shape presented its own distinct challenge, especially with the harsh western sun constantly battering its facade. Unfortunately, the park across the street was too far away to provide any shade. Had we failed at this very frontage, the users’ comfort and the spatial experience would have been compromised. This was where design ego had to be suppressed. We realized that this building was not tasked with fighting the site; rather, it had to be slowly assembled by embracing its boundaries.
Our hypothesis stemmed from an antithesis: to combat extreme heat, the answer was not to build a dense, protective wall, but rather to deliberately open up a gap. We dedicated the remaining land on the western side to create its own garden—a landscaped area designed to be up to 6% larger than its main living room.
On the other hand, we were confronted with the most exhausting technical issue: leveling, or adjusting the height contours. With the ground floor focused on service functions, seamlessly connecting the street level to the main entrance located on the floor above proved to be far more difficult than imagined. Ultimately, the entry path was designed to meander using a ramp, winding around the swimming pool, which also worked to cool the air through an evaporative effect. Greeted by the trickle of water intentionally made to overflow the pool’s edge, the spatial experience was crafted as if one were walking through a canyon. This area blurs the boundaries between the artificial and the natural. To be completely honest, to economize while adhering to the budget constraints, we concentrated almost all our design energy and costs on the experience at this entry point.
Moving deeper into the heart of the house, the continuation of the space relies on a more casual architectural sequence: fragmented spaces and east-west light openings that have become the everyday vocabulary of this studio. There lies a 70-square-meter open family room, sheltered by a 127-square-meter vertical void. At its peak, a 40-square-meter skylight adopts the spatial spirit of a traditional joglo. Its layered crevices allow light to creep downward while simultaneously providing an escape route for warm air. Beneath it, bedrooms that are pulled outward provide extra shading—a structural decision that helps lower the family room’s temperature by 3 to 5°C.
However, the true test of a living building is its ability to respond to mid-course changes. While construction was already underway, a rather challenging new requirement emerged: the inhabitants wanted to maximize the roof as a garden. We had to rack our brains once again. How could this design language continuously extend upwards, protecting against the rain, yet still contributing coolness to the area below?
Creating a garden on a dry and arid roof area is no easy feat. We realized that, unlike commercial projects, a residential home demands maintenance independence from its inhabitants. Canceling the intention to plant directly in the soil, we compromised by using a potted landscape system. Yellow palms were selected as the primary barricade because they are the most resilient and easily maintained variety, accompanied by lush monsteras to slowly form their own microclimate as the daily operations of the house unfold.
Naturally, all these adaptations—from the roof landscape to the curved details of the doors and the fences made of iron and local ulin wood—were not mass-produced by machines. Everything was carefully crafted by the hands of our artisans, craftsmen who have forged themselves alongside this studio for 14 years. Reading the site conditions and creating new details for a different microclimate requires a profound bond with the materials, something that cannot be entirely represented by design lines on our screens.
Ultimately, Rumah Ngumpar taught us something invaluable: design is never truly finished on paper. On an irregular plot of land, architecture is not tasked with dominating. Angled terrain can be responded to with curved forms. The sun’s heat can be gently filtered through water and leaves. Although this project shares a glimpse of the spirit of fluidity that reminds us of our spatial explorations in Guha, it found its own level. A successful home is a building capable of softening itself to adapt to the environment and grow alongside its inhabitants, while we, the designers, merely need to take a step back, maintain budget discipline, learn from the circumstances, and allow the space to find its own equilibrium.
(IDN)
Mendesain Rumah Ngumpar bukanlah proses yang mulus sejak awal. Lahan seluas 300 m² di Bintaro sebenarnya cukup luas, tetapi bentuk sudutnya yang tidak beraturan menjadi tantangan tersendiri, terlebih dengan terik matahari barat yang terus menerpa mukanya. Taman di seberang jalan sayangnya terlalu jauh untuk memberi peneduh. Jika kami gagal di titik muka ini, kenyamanan pengguna dan pengalaman ruang dipertaruhkan. Di sinilah ego desain harus ditekan. Kami menyadari bahwa bangunan ini tidak bertugas melawan lahan, melainkan harus perlahan dirakit dengan memeluk batasannya.
Hipotesis kami berangkat dari sebuah antitesis: untuk melawan panas ekstrem, jawabannya bukanlah membangun dinding pelindung yang rapat, melainkan justru membuka sebuah celah. Kami mendedikasikan sisa lahan sebelah barat untuk menciptakan tamannya sendiri, sebuah area lanskap yang luasannya dirancang hingga 6% lebih besar dari ruang keluarga utamanya.
Di sisi lain kami dihadapkan pada masalah teknis yang paling menguras tenaga: leveling, penyesuaian kontur ketinggian. Ketika lantai dasar difokuskan untuk servis, mempertemukan level jalan dengan pintu masuk utama yang diletakkan di lantai atasnya secara mulus ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Akhirnya alur masuk dirancang meliuk-liuk menggunakan ramp, mengitari kolam renang yang juga bekerja menyejukkan udara lewat efek evaporasi. Disambut gemericik air yang sengaja dibuat meluap melewati tepi kolam, pengalaman ruang dibuat seolah sedang berjalan melewati sebuah ngarai. Area ini meleburkan batas antara yang artifisial dan yang natural. Jujur saja, untuk menghemat sekaligus menjaga pakem anggaran, hampir seluruh energi desain dan biaya kami pusatkan pada pengalaman di titik masuk ini.
Masuk lebih dalam ke jantung rumah, kelanjutan ruangnya bersandar pada sekuens arsitektur yang lebih kasual: potongan-potongan ruang dan bukaan cahaya barat-timur yang telah menjadi kosakata keseharian studio ini. Di sana terletak ruang keluarga terbuka seluas 70 m² yang dipayungi void vertikal seluas 127 m². Di puncaknya, skylight seluas 40 m² mengadopsi roh keruangan joglo. Celah-celah berlapisnya membiarkan cahaya turun merambat, sekaligus menjadi jalan keluar bagi udara hangat. Di bawahnya, kamar-kamar tidur yang ditarik menjorok ke luar memberi naungan ekstra, sebuah keputusan struktural yang membantu menurunkan suhu ruang keluarga hingga 3 sampai 5 °C.
Namun ujian sesungguhnya dari bangunan yang hidup adalah kemampuannya merespons perubahan di tengah jalan. Saat konstruksi sudah berjalan, muncul kebutuhan baru yang cukup menantang: penghuni ingin memaksimalkan atap sebagai taman. Kami harus kembali memutar otak. Bagaimana caranya bahasa desain ini terus menerus ke atas, melindungi dari hujan, tapi tetap menyumbang kesejukan bagi area di bawahnya?
Membuat taman di area atap yang kering dan gersang bukanlah hal mudah. Kami sadar, berbeda dengan proyek komersial, rumah tinggal menuntut kemandirian perawatan dari penghuninya. Membatalkan niat menanam langsung di tanah, kami berkompromi menggunakan sistem lanskap pot. Palem kuning dipilih sebagai barikade utama karena ia varietas yang paling tangguh dan mudah dirawat, ditemani rimbunnya monstera untuk perlahan membentuk iklim mikronya sendiri seiring berjalannya operasional rumah.
Tentu saja, semua adaptasi ini, dari lanskap atap hingga detail lengkung pintu dan pagar dari besi serta kayu ulin lokal, tidak diproduksi massal oleh mesin. Semuanya dikerjakan hati-hati oleh tangan para perajin kami, tukang-tukang yang telah menempa diri bersama studio ini selama 14 tahun. Membaca kondisi lapangan dan menciptakan detail baru untuk iklim mikro yang berbeda membutuhkan ikatan mendalam terhadap material, sesuatu yang tak bisa sepenuhnya diwakili oleh garis-garis desain di layar kami.
Rumah Ngumpar pada akhirnya mengajarkan sesuatu yang berharga: desain tidak pernah benar-benar selesai di atas kertas. Di lahan yang tidak beraturan, arsitektur tidak bertugas mendominasi. Tanah yang bersudut bisa direspons dengan wujud yang melengkung. Panasnya matahari bisa disaring lembut lewat air dan daun. Meskipun proyek ini membagikan sekelumit spirit keluwesan yang mengingatkan kami pada penjelajahan ruang di Guha, ia menemukan tingkatnya sendiri. Sebuah rumah yang berhasil adalah bangunan yang sanggup melunakkan dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungan dan bertumbuh bersama penghuninya, sementara kami, para perancangnya, hanya perlu mundur selangkah, menjaga disiplin anggaran, belajar dari keadaan, dan membiarkan ruang menemukan keseimbangannya sendiri.
June 10, 2025
Realrich Architecture Workshop
Realrich Sjarief